Andai ada kartu nama elektronik, pasti jauh lebih rapih dan Go Green. Padahal yang digambar atas baru satu tumpukan dari sekian tumpukan kartu nama.
The hard part dari tumpukan kartu nama yang banyak adalah saat mencari kartu nama tertentu. Mungkin ada yang bilang, “kenapa tidak di index saja”, yes that is something easy to say but hard to do it.
Barusan dapat buku baru hadiah dari acara training di kantor. Katanya saya masuk kedalam kategori “best performancer” kayak dance competition aja. Anyway, terima kasih bukunya pak Gadang
Kalau liat judulnya, sangat menarik “50 Great Business Ideas from Indonesia”. Beberapa waktu yang lalu (baca:tahun) mau beli buku ini,cuma belum kesampaian karena ada buku lain yang mau dibeli. Untung ada yang kasih hadiah jadi gak perlu beli
TV ini dibeli saat salah satu adik saya bersekolah di Bandung SMP, sekitar tahun 2001 atau 2002. Sekarang di rumah saya TV tersebut hanya dinyalakan saat ada PERSIB live dan saat anak saya lihat Shaun The Sheep. Selain kedua acara itu, TV dimatikan.
Apalagi saat ini acara TV sudah semakin tidak jelas, akhirnya saya dan istri lebih mengenalkan Youtube sebagai salah satu media ke anak saya. Dengan Youtube, saya bisa lebih mengkontrol materi apa yang akan disajikan ke anak saya.
Beberapa waktu yang lalu saya membeli Speedup TV di acara Indocomtech. Rencananya akan digunakan untuk memberdayakan TV saya yang lebih banyak matinya. Alat ini bisa mengubah TV konvensional menjadi “TV Internet”. Namun sayang, alat yang saya beli hanya support HDMI dan Composite (Pb,Py,Pr). Sedangkan TV saya hanya support Component (AV,audio1,audio2). Jadilah alat tersebut tidak digunakan.
Setelah coba Googling, ternyata harga sebuah konverter cukup lumayan, akhirnya teman-teman saya merekomendasikan untuk ganti TV sekalian .
Sampai hari ini, saya belum memutuskan untuk membeli TV baru karena tidak menjadi prioritas. Soalnya untuk buka Youtube masih bisa dilakukan di PC/laptop atau bahkan Galaxy Note-nya Ghazi.
Setelah Smallville, Heroes, Supranatural dan Hawaii Five O, sekarang film seri yang saya tonton bersama istri bertambah satu lagi yaitu Sherlock Holmes (sebenarnya sih sejak setahun yang lalu).
Kalau ada yang pernah nonton Detektif Conan yang kartun atau live action yang mengusung the art of deductive, maka serial Sherlock Holmes jauh lebih bagus. Apalagi cast-nya cocok dengan karakter yg diperankan.
Kayaknya enggak kebayang klo punya teman yang keahliannya kayak Sherlock, cukup liat sekilas bisa tahu segalanya.
Oh iya, jangan harap serialnya sama dengan film bioskopnya yang lebih banyak action dibanding menyelesaikan puzzle. Di serialnya lebih banyak drama dan teka-teki dalam menyelesaikan kasusnya.
Recent Comments